Rabu, 24 September 2014

KEANEKARAGAMAN BUDAYA DAN SPIRITUAL


BAB II
PEMBAHASAN
KEANEKARAGAMAN BUDAYA DAN SPIRITUAL
2.1 Heritage Consistency
1. Kebudayaan dan Pengobatan Tradisional
Masing-masing kebudayaan memiliki berbagai pengobatan untuk penyembuhan anggota masyarakatnya yang sakit. Berbeda dengan ilmu kedokteran yang menganggap bahwa penyebab penyakit adalah kuman, kemudian diberi obat antibiotika dan obat tersebut dapat mematikan kuman penyebab penyakit. Pada masyarakat tradisional, tidak semua penyakit itu disebabkan oleh penyebab biologis. Kadangkala mereka menghubung-hubungkan dengan sesuatu yang gaib, sihir, roh jahat atau iblis yang mengganggu manusia dan menyebabkan sakit.
Banyak suku di Indonesia menganggap bahwa penyakit itu timbul akibat guna-guna. Orang yang terkena guna-guna akan mendatangi dukun untuk meminta pertolongan. Masing-masing suku di Indonesia memiliki dukun atau tetua adat sebagai penyembuh orang yang terkena guna-guna tersebut. Cara yang digunakan juga berbeda-beda masing-masing suku. Begitu pula suku-suku di dunia, mereka menggunakan pengobatan tradisional masing-masing untuk menyembuhkan anggota sukunya yang sakit.
·      Suku Azande di Afrika Tengah mempunyai kepercayaan bahwa jika anggota sukunya jari kakinya tertusuk sewaktu sedang berjalan melalui  jalan biasa dan dia terkena penyakit tuberkulosis maka dia dianggap terkena serangan sihir. Penyakit itu disebabkan oleh serangan tukang sihir dan korban tidak akan sembuh sampai serangan itu berhenti.
·      Orang Kwakuit di bagian barat Kanada percaya bahwa penyakit dapat disebabkan oleh dimasukkannya benda asing ke dalam tubuh dan yang terkena dapat mencari pertolongan ke dukun. Dukun itu biasa disebut Shaman. Dengan suatu upacara penyembuhan maka Shaman akan mengeluarkan benda asing itu dari tubuh pasien.
2. Konsep Sehat dan Sakit Menurut Budaya Masyarakat
Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena ada faktor–faktor lain diluar kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya. Kedua pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain.
Banyak ahli filsafat, biologi, antropologi, sosiologi, kedokteran, dan lain-lain bidang ilmu pengetahuan telah mencoba memberikan pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun sosio budaya.
Definisi sakit: seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang sakit (istilah sehari -hari) seperti masuk angin, pilek, tetapi bila ia tidak terganggu untuk melaksanakan kegiatannya, maka ia di anggap tidak sakit
Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, social budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya. Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psycho socio somatic health well being, merupakan resultante dari 4 faktor yaitu:
1)   Environment atau lingkungan.
2)   Behaviour atau perilaku, Antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological balance.
3)   Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan sebagainya.
4)   Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif.
Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangat dipengaruhi oleh faktor -faktor seperti kelas sosial, perbedaan suku bangsa dan budaya. Maka ancaman kesehatan yang sama (yang ditentukan secara klinis), bergantung dari variable-variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda di kalangan pasien.
Seorang pengobat tradisional yang juga menerima pandangan kedokteran modern, mempunyai pengetahuan yang menarik mengenai masalah sakit-sehat. Baginya, arti sakit adalah sebagai berikut: sakit badaniah berarti ada tanda-tanda penyakit di badannya seperti panas tinggi, penglihatan lemah, tidak kuat bekerja, sulit makan, tidur terganggu, dan badan lemah atau sakit, maunya tiduran atau istirahat saja.
Persepsi masyarakat mengenai terjadinya penyakit berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, karena tergantung dari kebudayaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat tersebut. Persepsi kejadian penyakit yang berlainan dengan ilmu kesehatan sampai saat ini masih ada di masyarakat; dapat turun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan bahkan dapat berkembang luas.
2.2 Fenomena Budaya
Sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat, terdapat masalah kesehatan lingkungan angka penyakit, angka kematian, dan kesehatan yang setara budaya tersebut. Semuanya ini ditentukan oleh interaksi manusia dengan lingkungan, seperti tampak pada tabel  berikut ini.
1)   LINGKUNGAN
Bagi manusia, lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitarnya, baik berupa benda hidup, benda mati, benda nyata ataupun abstrak, termasuk manusia lainnya,serta suasana yang terbentuk karena terjadinya interaksi di antaraelemen-elemen di alam tersebut. Lingkungan itu sangat luas, oleh karenanya seringkali dikelompokkan untuk mempermudah pemahamannya.
  1. Klasifikasi Lingkungan
Tergantung kebutuhan, lingkungan dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara sebagai berikut:
1.  Lingkungan yang hidup (biotis) dan lingkungan tidak hidup (abiotis)
2.  Lingkungan alamiah, dan lingkungan buatan (manusia).
3.  Lingkungan prenatal dan lingkungan ponstnatal.
4.  Lingkungan biofisis dan lingkungan psikososial.
5. Lingkungan air (hydrosfir), linkungan udara (atmosfir), lingkungan tanah (litosfir), lingkungan biologis (biosfir), dan lingkungan sosial (sosiosfir).
6. Kombinasi dari klasifikasi-klasifikasi tersebut.
2.3 Keyakinan Tradisional Tentang Kesehatan Dan Penyakit
Ketika keyakinan dan praktik kesehatan dibicarakan karena hal ini berkaitan dengan klutur, etnisitas, dan agama. Rentang definisi sehat dan sakit, keyakinan, dan pratiknya adalah infinitive, dan terdapat perbedaan didalam dan diantara kelompok. Namun demikian, terdapat perbedaan umum yang jelas. Perawat harus mengingat bahwa penting halnya untuk selalu secara konstan mengkaji dan berkomunikasi dengan klien untuk mengklarifikasi keyakinan mereka tentang kesehatan dan penyakit.
A.  Keyakinan Tradisional
Keyakinan rakyat yang didasari oleh kultur sering menentukan definisi tentang kesehatan dan penyakit bagi orang yang mempunyai system keyakinan tradisional. Pencegahan dan pengobatan suatu penyakit tergantung pada pemahaman tentang penyebabnya. Keyhakinan kesehatan tradisional tentang penyebab dari suatu penyakit dapat sangat berbeda dengan model epidemiologi orang barat. Itulah sebabya, penting artinya untuk memahami epidemiologi tradisioanal, atau penyebab penyakit didalam system keyakinan.
B.  Praktik TradisionaL
Banyak praktik tradisional digunakan untuk mencegah dan mengatasi penyakit; praktik ini termasuk penggunaan benda, bahan, dan praktik keagamaan, yang juga dikenal sebagai folk-medicine(pengobatan rakyat). Tepatnya, pengobatan rakyat yang berhubungan dengan tipe praktik pengobatan lain dimasyarakat. Salah satu contoh dari hal ini adalah adanya popularitas tentang pengobatan alternative dan penggunaan ramuan homeopatik. Pengobatan rakyat terus ada, sejalan dengan tekanan yang terus meningkat dari pengobatan modern dan yang telah diturunkan dari sekolah kedokteran dari generasi sebelumnya. Praktik rakyat pada masa lalu hanya memilki bagian yang telah diabaikan oleh sistem keyakianan perawatan kesehatan modern. Berikut ini adalah keragaman dari pengobatan rakyat tradisional (Yoder, 199972).
1)   Pengobatan rakyat alamiah adalah salah satu dari masyarakat yang pertama menggunakan lingkungan alamiah dan menggunakan herbal, dan subtansi hewan untuk mencegah dan mengatai penyakit.
2)   Pengobatan rakyat magisoreligius menggunakan kata-kata yang ramah, suci, dan tindakan suci untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit.
C.  Pengobatan Rakyat Alamiah
Pengobatan rakyat alamiah banyak dilakukan di Amerika Serikat dan di Negara lain. Umumnya, bentuk pencegahan dan pengobatan ini ditemukan pada ramuan tradisional dan obat-obat rumah tangga. Ramuan ini telah diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, dan banyak hingga sekarang masih digunakan. Banyak dari ramuan ini adalah herbal, dan adat serta ritual yang berkaitan dengan penggunaan herbal ini beragam di antara kelompok etnik. Aspek umum dari penggunaan herbal adalah pengetahuan bahwa segala yang terdapat di alam dapat di gunakan sebagai sumber terapi. Cara dimana obat-obatan ini dikumpulkan dan penggunaan spesifik dapat beragam sesuai dengan kelompok dan agama. Secara umum, trdadisi pengobatan rakyat menggambarkan tahun dimana herbal tersebut dipetik; cara herbal tersebut dikeringkan disiapkan; dan metoda, jumlah, dan frekuensi penggunaan.


Berikut ini adalah beberapa contoh dari pengobatan rakyat tradisional:
-          Seorang yang asal budayanya dari Jamaika mungkin menggunakan teh cerasee untuk menjaga “sistem” tetap bersih.
-          Seseorang yang asal budayanya dari Italia mungkin menggunakan bawang putih untuk mencegah mata setan.
-          Seseorang yang asal budayanya dari Jerman mungkin menggunakan kentang untuk mengatasi kutil.
-          Seseorang yang asal budayanya dari Yunani mungkin menggunakan the chamomileuntuk engatasi gangguan lambung.
-          Seseorang yang asal budayanya dari Cina mungkin menggunakan teh dari beras yang dibakar untuk mengatasi diare.
D.  Pengobatan Rakyat Magisoreligius
Pengobatan rakyat magireligius, juga, telah ada sejak manusia mencari penyembuhan dari penyakit mereka. Tipe pengobatan ini sekarang disebut oleh sebagian orang sebagai ”superstition”, namun bagi penganutnya, jenis pengobatan ini merupakan praktik keagamaan yang berkaitan dengan penyembuhan. Salah satu contoh dari pengobatan ini adalah bentuk penyembuhan keagamaan tidak resmi yang dikenal sebagai powwowing, charming, atau conjuring. Dalam praktik ini, lues jimat, air suci, seperti air dari Lourdes, manipulasi fisik digunakan dalam upaya menyembuhkan penyakit.
E.   Penggunaan Makanan
Makanan dicerna dalam cara atau jumlah tertentu. Praktik ini menggunakan diet dan terdiri atas banyak ibadat yang berbeda. Banyak orang percaya bahwa sistem tubuh terjaga keseimbangan atau dalam harmoni dengan memakan dengan tipe makanan tertentu, sehingga terdapat banyak makanan dan kombinasi makanananggap tabu. Sebagai contoh, dipercaya bahwa beberapa bahan makanan dapat dimakan untuk mencegah penyakit. Orang dari banyak latar belakang etnik memakan bawang putih atau bawang mentah, memakannya ditubuh mereka, atau mengantungnya dirumah untuk tujuan ini. Peran halal yang dipraktikan diantara oaring Yahudi melarang daging babi dan kerang untuk dimakan. Mereka memperbolehkan makan ikan yang bertulang dan bersirip dan hanya potongan tertentu daging dari hewan dengan jari berlebah yang memamah biak(lembu dan domba). Orang Yahudi juga percaya susu dan daging tidak boleh diletakkan pada tempat yang sama atau dimakan pada makan. Muslim juga mematuhi banyak praktik diet, seperti diet halal. Misalnya, muslim tidak makan daging babi. Penyuluhan keagamaan dapat menyebabkan klien tidak menerima produk perawatan kesehatan, seperti insulin yang dibuat dari penkreasbabi untuk mengobati diabetes.
F.   Ramuan Tradisional
Penggunaan obat-obat tradisional atau obat rakyat sekarang ini terus menigkat, dan praktiknya tampak diantaraorang-orang dari semua latar belakang etnik dan kultur. Ketika seseorang menggunakan obat-obatanyang berasal dari warisan budaya etnokultural mereka., maka penggunaan obat-obatan ini disebut sebagai “ perawatan kesehatan tradisional”. Ketika sesorang menggunakan obat-obatan bukan dari tradisi etnokultural mereka, maka penggunaan obat ini disebut sebagai “pengobatan alternative”. Penggunaan obat-obatan rakyat bukan praktik baru diantara masyarakat heritage consisten, sudah banyak digunakan dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berkutnya. Sifat famasitisdari vegetasi-tumbuhan, akar-akaran, batang, bunga, biji,dan herbal-telah banyak diteliti, dicoba, dibuat catalog, dan digunakan untuk banyak Negara. Banyak dari tumbuhan ini digunakan oleh komunitas tertentu. Tumbuhan yang lain menembus garis etnik dan komunitas dan digunakan pada area geografis tertentu. Ramuan ini dibeli ditoko khusus atau dipasar tertentu yang ada dikomunitas etnokultural di Amerika Serikat dan mungkin juga dijual dinegara asalnya.
Perawat harus menentukan apakah klien menggunakan ramuan tradisional atau alternative. Hal ini penting jika klien tidak meminum obat-obatan yang diresepkan. Sering kali, kandungan aktif dari ramuan tradisional tidak diketahui. Jika klien menggunakannya, perawat harus mengetahui ramuan tersebut dan kandungan aktifnya. Seringkali kandungan ini menjadi antagonis atau sinergik dengan obat-obatan yang diresepkan dokter. Jika demikian keadaannya, maka obat-obatan yang diresepkan dokter tidak mempunyai efek, atau dapat terjadi takar lajak yang berat. Pembahasan tentang farmakopoeia ini tidak dibahas luas dalam bab ini; sehingga hanya sampel ramuan tertentu dari setiap populasi yang akan dibahas lebih jauh.
G.  Penyembuh (Dukun)
Dalam konteks tradisional, penyembuhan adalah pemulihan seseorang ke dalam keadaan harmoni  antara tubuh, pikiran, dan jiwa, atau pemulihan kesehatan holistic. Dalam komunitas tertentu, orang tertentu dikenal mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan. Dukun dianggap mendapat anugerah penyembuhan dari tuhan.
Pada banyak contoh seseorang dengan warisan budaya konsisten dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan seorang dukun sebelum ia berhubungan dengan pemberi kesehatan modern. Terdapat banyak perbedaan antara dokter barat dengan dukun tradisional(Kaptchuk & Croucher, 1987) (Tabel 21-3). Hubungan seseorang dengan dukun, misalnya, sering lebih dekat dibanding hubungan antara orang tersebut dengan tenaga kesehatan perawatan professional. Orang menganggap dukun sebagai seorang yang memahami masalah dalam konteks cultural, berbicara dengan bahasa yang sama, dan mempunyai pandangan yang sama tentang dunia.
Contoh dari dukun tradisional adalah sebagai berikut:
1.    Medicine man: dukun tradisional dari suku Indian Amerika.
2.    Senora: wanita asal Puerto Rico yang memp[unyai pengetahuan dalam mengobati penyakit.
3.    Espiritista: seseorang yang memiliki keterampilan yang lebih canggih dibandingkan senora.
4.    Curandero: seseorang yang mempunyai warisan budaya Meksiko dengan kemampuan yang dianugerahkan oleh tuhan untuk menyembuhkan dengan menggunakan pendekatan religious-psikiatrik.
5.    Partera: dukun beranak berkebangsaan Meksiko-Amerka.
6.    Root-worker: orang kulit hitam yang berasal dari Afrika yang mampu menentukan penyebab dan pengobatannya.
7.    Dokter Cina: dokter yang sering dididik baik dalam lingkungan kedokteran herbal Cina trdadisional maupun kedokteran modern.
Dukun tradisional telah selalu menjadi bagian dari kultur. Metoda yang digunakan oleh dukun-dukun ini telah dikembangkan sepanjang generasi dengan coba-salah(terial and error) dan sering didasarkan pada keyakinan keagamaan dan situasi sosial. Metoda yang aktif telah dilestarikan dan diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Dukun tradisional menyadari tentang cultural dan kebutuhan pribadi klien dan mampu memahami masalah masa kini.
2.4 Aspek Budaya Tentang Kesehatan Dan Penyakit
A. Budaya
Budaya menggambarkan sifat non-fisik, seperti nilai, keyakinan, sikap, atau adat-istiadat yang disepakati oleh kelompok masyarakat dan di wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kultur adalah juga merupakan kumpulan dari keyakinan, praktik, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, normal, adat-istiadat, ritual yang dipelajari dari keluarga selama sosialisasi bertahun-tahun. Banyak keyakinan, pikiran, dan tindakan masyarakat, baik yang disadari maupun yang tidak disadari, ditentukan oleh latar belakang budaya(Spector,1991). Akhirnya, kultur adalah “system metakomunikasi”  yang di dalam nya tidak hanya bahasa lisan mempunyai makna, tetapi juga segala sesuatu yang lain (matsubmoto,1988).
B.  Etnisitas
 Etnisitas  adalah rasa identitas diri  yang  berkaitan dengan kelompok kultur social umum dan warisan budaya. Etnisitas adalah kompleks, sukar dipahami, dan tidak selalu di definisikan dengan jelas.
C. Religi
Religi adalah keyakinan dalam sesuatu kekuatan sifat ketuhanan atau di luar kekuatan manusia yang harus di patuhi yang di ibadatkan sebagai pencipta dan pengatur alam semesta(Abramson,1980). Nilai etika dan keyakinan serta praktik keagamaan berfungsi untuk lebih jauh mengklarifikasi etnisitas.
D. Kontrol lingkungan
Kontrol lingkungan mengacu pada kemampuan dari anggota kelompok kultural tertentu untuk merencanakan aktivitas yang mengontrol sifat dan faktor lingkungan langsung (Giger&Davidhijar,1995). Termasuk di dalam nya adalah sistem keyakinan tradisional tentang kesehatan dan penyakit, praktik pengobatan tradisional, dan penggunaan penyembuh tradisional fenomena kultural tertentu ini memainkan peran yang sangat penting dalam cara klien berespons terhadap pengalaman yang berkaitan dengan kesehatan, termaksuk cara di mana mereka mendefinisikan kesehatan dan penyakit dan mencari serta menggunakan sumber kesehatan dan asuhan keperawatan serta dukungan sosial.
E. Oganisasi sosial
Lingkungan sosial dimana seseorang dibesarkan dan bertempat tinggal memainkan peran penting dalam perkembangan dan identitas kultural mereka. Anak-anak belajar tentang respon terhadap peristiwa kehidupan dari keluarga mereka dan dari kelompok etnoreligi. Proses sosialisasi ini adalah suatu bagian warisan yang diturunkan kultural, agama, dan latar belakang etnik. Organisasi sosial mengacu pada unit keluarga(keluarga kecil, orang tua tuggal, atau keluarga besar) dan organisasi kelompok social (keagamaan atau etnik)yang dapat diidentifikasi oleh klien atau keluarga.
F.  Hambatan social pada perawatan  kesehatan
Beberapa rintangan sosial, seperti pengangguran, kekurangan pekerjaan, tunawisma, tidak memuiliki asuransi kesehatan, dan kemiskinan menghambat sesorang untuk memasuki  sistem perawatan kesehatan. Kemiskinan sejauh ini merupakan faktor yang paling kritis. Kemiskinan adalah istilah relatif dan selalu berubah sesuai waktu dan tempat. Kesehatan  yang buruk, penyakit yang melumpuhkan kehidupan, penyalahgunaan obat dan alcohol, dan tingkat pendidikan yang minim adalah penyebab social yang menyebabkan kemiskinan. Sudah banyak yang dipelajari tentang melawan kemiskinan sejak tahun 1964, tetapi sekarang timbul semboyan baru”perang melawan kemiskinan” dimana orang miskin dilihat sebagai penyebab kemiskinan dan sebagai korban kemiskinan( shoor, 1995).
G. Komunikasi
Perbedaan komunikasi di bedakan dalam berbagi cara, termasuk perbedaan bahasa, perilaku verbal dan non verbal, dan diam. Perbedaan bahasa kemungkinan merupakan faktor terpenting dalam memberikan asuhan keperawatan tranfultural karena perbadaan ini memberi dampak pada semua tahap  proses keperawatan. Komunikasi yang jelas dan efektif adalah aspek penting ketika berhubungan dengan klien terutama jika perbedaan bahasa menciptakan rintangan cultural antara perawat dan  klien.  Jika klien tidak berbicara dengan bahasa perawat, maka diperlukan pengalih bahasa. Namun demikian sering terjadi dimana klien dapat berbicara dengan bahasa perawat dengan kemampuan berbatas atau mengunakan  bahasa dengan normal denotative atau konotatif yang berbeda dengan makna yang dimilki dengan perawat.
Beberapa perawat cenderung untuk menghindari klien dengan siapa mereka tidak dapat  berkomunikasi. Hal ini menciptakan lingkaran erat kesalahpahaman cultural. Menurut Muecke (1970), perawat dapat berperilaku terhadap klien dengan cara berikut yang dapat disalahgunakan:
1.    Perawat meneriakkan kata-kata yang sama lebih keras. Dengan mengeraskan suara, tidak akan membuat kata-kata tersebut dapat dipahami, dan tindakan seperti ini dapat juga menunjukkan permusuhan dengan klien.
2.    Perawat berfokus pada tugas ketimbang pada klien.  Hal ini menunjukkan bahwa perawat lebih tertarik pada tugasnya ketimbang pada klien.
3.    Perawat berhenti berbicara dengan klien dan mulai melakukan sesuatu bagi klien ketimbang bersama klien, sikap ini menyikapkan secara tidak langsung tentang inverioritas klien.
2.5 Faktor Kultural Dan Proses Keperawatan
Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002). Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensi dari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan keperawatan. Tindakan Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya diberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan, masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secara umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan bimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang
universal dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satu tempat dengan tempat lainnya.
1.    Konsep dalam Transcultural Nursing
1)      Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.
2)      Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan.
3)      Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
4)      Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain.
5)      Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
6)      Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal muasal manusia.
7)      Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik diantara keduanya.
8)      Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia.
9)      Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.
10)  Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
11)  Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehata untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok lain.
2.    Proses keperawatan Transcultural Nursing
Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit (Sunrise Model) seperti yang terdapat pada gambar 1. Geisser (1991) menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
1)    Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada "Sunrise Model" yaitu :
(a)     Faktor teknologi (tecnological factors)
Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.
(b)    Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.
(c)     Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan kepala keluarga.
(d)    Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah : posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.
(e)     Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.
(f)     Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh.  Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga.
(g)    Faktor pendidikan (educational factors)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi
terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.
2.6 Spiritualitas Dan Religi
Setiap orang dalam hidupnya pasti akan menghadapi yang namanya masalah, sikap seseorang dalam menghadapi sangat ditentukan oleh keyakinan mereka masing-masing. Keyakinan yang dimiliki setiap orang selalu dikaitkan dengan kepercayaan atau agama. Spiritual, keyakinan dan agama merupakan hal yang berbeda namun seringkali diartikan sama. Penting sekali bagi seorang perawat memahami perbedaan antara Spiritual, keyakinan dan agama guna menghindarkan salah pengertian yang akan mempengaruhi pendekatan perawat dengan pasien.
Pasien yang sedang dirawat dirumah sakit membutuhkan asuhan keperawatan yang holistik dimana perawat dituntut untuk mampu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif bukan hanya pada masalah secara fisik namun juga spiritualnya. Untuk itulah materi spiritual diberikan kepada calon perawat guna meningkatkan pemahaman dan kemampuan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan kebutuhan spiritual.

A. Konsep terkini dalam kesehatan spiritual.
1. Spiritualitas
Konsep spiritual memiliki delapan batas tetapi saling tumpang tindih:
Energi, transendensi diri, keterhubungan, kepercayaan, realitas eksistensial, keyakinan dan nilai, kekuatan batiniah, harmoni dan batin nurani.
a) Spiritualitas memberikan individu energi yang dibutuhkan untuk menemukan diri mereka, untuk beradaptasi dengan situasi yang sulit dan untuk memelihara kesehatan.
b) Transedensi diri (self transedence) adalah kepercayaan yang merupakan dorongan dari luar yang lebih besar dari individu.
c) Spiritualitas memberikan pengertian keterhubungan intrapersonal (dengan diri sendiri), interpersonal (dengan orang lain) dan transpersonal ( dengan yang tidak terlihat, Tuhan atau yang tertinggi) (Miner –william, 2006 cit Potter & Perry, 2009)
d) Spiritual memberikan kepercayaan setelah berhubungan dengan Tuhan. Kepercayaan selalu identik dengan agama sekalipun ada kepercayaan tanpa agama.
e) Spritualitas melibatkan realitas eksistensi (arti dan tujuan hidup).
f) Keyakinan dan nilai menjadi dasar spiritualitas. Nilai membantu individu menentukan apa yang penting bagi mereka dan membantu individu menghargai keindahan dan harga pemikiran, obysk dsn prilaku.(Holins, 2005; vilagomenza, 2005
g) Spiritual memberikan individu kemampuan untuk menemukan pengertian kekuatan batiniah yang dinamis dan kreatif  yang dibutuhkan saat membuat keputusan sulit (Braks-wallance dan Park, 2004).
h) Spiritual memberikan kedamaian dalam menghadapi penyakit terminal maupun menjelang  ajal (Potter & Perry, 2009).
Ada individu yang  tidak mempercayai adanya Tuhan (atheis) atau percaya bahwa tidak ada kenyataan akhir yang diketahui (Agnostik). Ini bukan berati bahwa spiritual bukan merupakan konsep penting bagi atheis dan agnostik, Atheis mencari arti kehidupan melalui pekerjaan mereka dan hubungan mereka dengan orang lain.agnostik menemukan arti hidup dalam pekerjaan mereka karena mereka percaya bahwa tidak adanya akhir bagi jalan hidup mereka.
2. Dimensi Spiritual ( Kozier, Erb, Blais & Wilkinson, 1995; Murray & Zentner, 1993 ):
a) Mempertahankan keharmonisan / keselarasan dengan dunia luar
b) Berjuang untuk menjawab / mendapatkan kekuatan
c) Untuk menghadapi : Stres emosional, penyakit fisik, dan menghadapi kematian
3. Konsep kesejahteraan spiritual ( spiritual well-being)  (Gray,2006; Smith, 2006):
a) Dimensi vertikal
Hubungan positif individu dengan Tuhan atau beberapa kekuasaan tertinggi
b) Dimensi horisontal
Hubungan positif individu dengan orang lain
B. Hubungan antara spiritual – kesehatan dan sakit
1. Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan dan prilaku klien. Beberapa pengaruh yang perlu dipahami:
a) Menuntun kebiasaan sehari-hari
Praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin mempunyai makna keagamaan bagi klien, sebagai contoh: ada agama yang menetapkan diet makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan.
b) Sumber dukungan
Pada saat stress, individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.  sumber kekuatan sangat diperlukan untuk dapat menerima keadaan  sakitnya khususnya jika penyakit tersebut membutuhkan waktu penyembuhan yang lama.
c) Sumber konflik
Pada suatu situasi bisa terjasi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan. Misalnya: ada yang menganggap penyakitnya adalah cobaan dari Tuhan.

2.7 Proses Keperawatan Dan Spiritualitas
Pada intinya keperawatan adalah komitmen  tentang mengasihi (caring). Merawat seseorang adalah suatu proses interaktif yang bersifat individual melalui proses tersebut individu menolong satu sama lain  dan menjadi teraktualisasi (Clark, et al, 1991).
Penerapan proses keperawatan dari perspektif kebutuhan spiritual klien tidak sederhan. Hal ini sangat  jauh dari sekedar mengkaji praktik dan ritual keagamaan klien. Memahami spiritual klien dan kemudian secara tepat mengidentifikasi tingkat dukungan dan sumber yang diperlukan, membutuhkan perspektif baru yang lebih luas. Heliker (1992) menggambarkan hal ini sebagai bidang yang menyangkut komunitas dan keharuan (campassion). Campassion berasal dari bahasa Latin pati dan cum , yang bearti “menderita”, komunitas berasal dari bahasa Latin yang berarti “persahabatan”. Untuk dapat merasa sangat kasihan adalah dengan “memasuki tempat kepedihan, untuk berbagai kehancuran dengan manusia lainnya” (Heliker, 1992).
Ø Pengkajian
Kemampuan perawat untuk mendapatkan gambaran tentang dimesi spiritual klien yang jelas mungkin dibatasi oleh linhkungan dimana orang tersebut mmepraktikkan spiritualnya. Hal ini benar jika perawat mempunyai kontak terbatas dengan klien dan gagal untuk membina hubungan saling percaya, perawat dank lien sampai titik pembelajaran ber spiritualitas yang sama, dan terjadi pengasuhan spiritual. Apa yang dapat diberikan tetapi bagaimana secara sadar perawat mengintergrasikan perawatan spiritual ke dalam prosws keperawatan. Perawata tidak perlu menggunakan alasan “tidak cukup waktu” untuk menghindari pengenalan nilai spiritualitas yang dianut untuk kesehatan klien.
Farran et al (1989 ) telah mengembangkan model untuk pengkajian spiritual yang dapat memberikan gambaran nyata dari domensi spiritual yang hampir pasti selalu dipengaruhi oleh pengalaman, kejadian, dan pertanyaan dalam kejadian penyakit dan perawatan di rumah sakit. Pengkajian menunjukkan kesempatan yang dimiliki perawat dalam mendukung atau menguatkan spiritualitas klien. Pengkajian itu sendiri, dapat menjadi teraupetik karena pengkajian tersebut menunjukkan tingkat perawatan dan dukungan yang diberikan. Perawat yang memahami pendekatan konseptual menyeluruh tentang pengkajian spiritual akan menjadi yang paling berhasil. Inti dari spiritualitas seseorang addalah menyeluruh tidak hanya dalam bagian yang ditunjukkan melalui setiap ketegori pengkajian.
Ø Keyakinan dan Makna
Penting untuk mempelajari tentang filosofi hidup seseorang, perspektif spiritualisasinya, dan apakah pandangan spiritualnya sebagai bagian dari kehidupannya secara keseluruhan. Tanyakan pada klien, ”Dapatkah Anda katakan kepada saya tentang filosofi hidup Anda,” “Jelaskan kepada saya apa yang paling penting dalam hidup anda,” Atau “Katakan kepada saya apa yang telah memberi makna atau arti hidup anda” dapat membantu mengkaji apa yang memberi makna hidup seseorang. Informasi ini dapat membantu perawat untuk mengenali fokus spiritual kien dan dampat penyakit atau kecacatan pada kehidupan seseorang. Jika kesehatan seseorang (seperti yang didefinisikan oleh kien) adalah aspek yang paling penting dari hidupnya, maka jelaskan bahwa penyakit akan sangat memberi dampak. Suatu pemahaman tentang  keyakinan dan makna yang mencerminkan sumber spiritual seseorang memudahkan dalam mengatasi kejadian traumatic atau yang menyulitkan.
Fryback (1992) telah mampu memahami dengan lebih baik domain spiritual dengan meminta klien penderita AIDS atau kanker untuk menjawab pertanyaan, “Apakah sehat itu?” Keyakinan tentang kesehatan dapat mempengaruhi pandangan seseorang tentang hidup dan bagaimana ia berespons ketika terjadi penyakit. Bergantung pada praktik keagamaan klien, pandangan tentang kesehatan  dan respons terhadap penyakit dapat mempengaruhi bagaimana perawat dan pemberian perawatan lain memberikan dukungan.
Keyakinan Keagamaan tentang Kesehatan


AGAMA
KEYAKINAN PERAWAT KESEHATAN
RESPONS TERHADAP PENYAKIT
Hindu
Menerima ilmu pengetahuan medis modern
Penyakit disebabkan oleh dosa masa lalu memperpanjang hidup tidak dibenarkan
Sikh
Menerima ilmu pengetahuan medis modern
WAnita diperiksa oleh wanita melepakan pakaian dalam akan menyebabkan ditres distress yang besar
Budhis
Menerima ilmu pengetahuan medis modern
Dapat menolak pengobatan pada hari suci Spirit bukan-manusia yang memasuki tubuh dapat menyebabkan penyakit mungkin menginginkan pendeta budha tidak mempraktikkan euthanasia mengizinkan untuk menghentikan pendukung hidup
Shinto
Menerima pengobatan medis modern sejalan dengan tradisi leluhur
Akan tidak mengizikan pengobatan yang “tampak”
Islam
Harus dapat mempraktikkan Lima Rukun Islam (lihat hlm. 573)
Dapat mempunyai pandangan yang fatal tentang kesehatan
Menggunakan keprecayaan sebagai penyembuh anggota keluarga harus tenang
Kelompok pendoa diperkuat mungkin mengizikan penghetian pendukung hidup tidak mempraktikkan euthanasia.
Yahudi
Mempercayai sanksi dari kehidupan Tuhan dan kedokteran harus mempunyai keseimbanagn
Kepatuhan kepada hari sahabat adalah penting tidak melakukan aktivitas pada hari sahabat
Mengunungi orang sakit adalah suatu keajaiban mereka berkewajiban untuk mncari perawatan eunatasia adalah dilarang
Pendukung hidup tidak dibenarkan
Kristen
Menerima ilmu pengetahuan medis modern
Menggunakan doa, kepercayaan sebagai penyembuh Menghargai kunjungan dari gereja
Beberapa mengunakan “penumpang tangan” komunikasi suci umumnya digunakan



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada dasarnya kebanyakan orang awam yang masih mempercayai dengan adanya kekuatan dukun ketimbang dengan kekuatan dokter profesional, dan kebanyakan orang menganggap dukun mendapatkan anugerah dari tuhan yang bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit yang diderita manusia. Dan mereka memilih ke dukun karena obat-obatan yang digunakan adalah obat herbal ketimbang obat-obatan dari dokter professional.
Keperawatan transkultural adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan yang difokuskan kepada individu dan kelompok untuk mempertahankan, meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya
3.2 Saran
Adapun saran penulis terhadap pembaca, yaitu:
Sebaiknya teori dan konsep yang telah diketahui oleh seorang perawat dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Dan berfungsi sebagaimana mestinya untuk diamalkan kepada masyarakat, pasien yang membutuhkan. Terutama dalam hal yang menyangkut dengan keanekaragaman budaya dan spiritual.



DAFTAR PUSTAKA
·      http://www.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2012/07/FIK.pdf  (14-04-2014, 19.15 WIB)
·      http://www.ieneproject.eu/glossary-term.php?termID=34 (15-04-2014, 09.29 WIB)
·      http://gutap-gutap.blogspot.com/ (15-04-2014, 09.29 WIB)
·      http://bloggersahabat-infokeperawatan.blogspot.com/ (15-04-2014, 09.29 WIB)

1 komentar:

  1. Best Casino Apps & Apps - DrMCD
    Here are the top 20 best casino apps. 충청북도 출장안마 Top 10 진주 출장샵 best casino apps: PokerStars, Best Casino. 통영 출장샵 Our 전라남도 출장마사지 recommendations for the Best Casino in 순천 출장마사지 2021.

    BalasHapus